Indonesia Berpotensi Dilanda Elnino Godzilla, BKMG Lakukan Mitigasi Bencana

Jakarta – Salah satu fenomena iklim skala besar bernama El Nino akan terjadi di Indonesia. Dilansir dari World Health Organization (WHO), El Nino Southern Oscillation (ENSO) adalah fenomena iklim yang terjadi secara alami yang melibatkan fluktuasi suhu laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, ditambah dengan perubahan atmosfer di atasnya. Dampak dari setiap peristiwa El Nino tergantung pada intensitas, durasi, waktu perkembangannya, dan interaksi dengan mode variabilitas iklim lainnya. Di Asia Pasifik, curah hujan lebih rendah akan terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan kondisi lebih basah salah satunya di kepulauan Pasifik bagian timur-tengah.

El Nino memberikan sejumlah dampak terhadap wilayah yang mengalaminya. Pemerintah melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan upaya pencegahan dampak tersebut. Lantas, apa saja upaya pencegahan dampak yang telah dilakukan?

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menjelaskan dinamika atmosfer per April 2026 serta dampak historis El Nino terhadap berbagai sektor dan anomali iklim yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  Hal itu disebabkan Indonesia tengah memasuki musim kemarau. Berdasarkan rilis BMKG pada April 2026, kondisi iklim global masih berada pada fase ENSO netral hingga pertengahan tahun 2026. Sementara itu, hasil analisis BMKG Maret – Mei 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat.

“Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 – Mei 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026, dengan peluang berkisar antara 50 hingga 80 persen. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” jelas Guswanto.

Wakapolri, Dedi Prasetyo, mengatakan penting untuk melakukan kolaborasi lintas sektor guna menghadapi potensi karhutla tersebut.  “Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan,” ujarnya.

Salah satu strategi utama yang disepakati adalah optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut telah berlangsung di Riau dan Kalimantan Barat.

“Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan langkah tersebut berfokus pada upaya preventif (pencegahan) ketimbang kuratif (pemadaman), dengan prediksi kemarau yang datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat. Kemudian, selain integrasi data, BMKG juga berkoordinasi dengan Kemenhut untuk memasang Aloptama (Alat Operasional Utama) dan sensor-sensor meteorologi penting di area kawasan hutan. Penambahan sensor ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dan keandalan data iklim nasional.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan saat ini perkembangan pembentukan El Nino masih dimonitor oleh BMKG.

“Intensitasnya belum bisa dipastikan saat ini, dan masih dimonitor. Biasanya, tahun setelah terjadinya el nino, terjadi pemecahan rekor tahun terpanas, namun tidak ada pernyataan kepastian akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah,” kata Ardhasena. 

Lebih lanjut, BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino yang mencapai intensitas lemah sebesar 100 persen, intensitas moderat sebesar 86 persen. dan intensitas kuat sebesar 22 persen.

Ardhasena mengatakan bulan Mei-Oktober 2026 menjadi periode yang berlu diwaspadai dampaknya terhadap Indonesia.  “El nino sendiri apabila terjadi akan berlanjut hingga tahun berikutnya namun dampak di indonesia hanya beririsan dengan musim kemarau di pertengahan tahun. Perlu diwaspadai potensi kebakaran hutan khususnya di lahan gambut,” pungkas Ardhasena. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *