Warga Warloka Pesisir Andalkan Air Payau Saat Kemarau, Air Minum Harus Didatangkan dari Labuan Bajo

Wisata2 Views

Manggarai Barat,NTT – Di balik potensinya sebagai desa penyangga Taman Nasional Komodo sekaligus calon destinasi wisata unggulan, warga Desa Persiapan Warloka Pesisir, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan akses air bersih.

Memasuki musim kemarau, sebagian besar warga terpaksa mengandalkan air sumur yang terasa payau hingga asin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk kebutuhan air minum, mereka harus membeli air galon isi ulang yang didatangkan dari Labuan Bajo.

banner 336x280

Salah seorang warga, Hasye (51), mengatakan keluarganya membeli air galon berkapasitas 19 liter seharga Rp10.000. Air tersebut digunakan khusus untuk kebutuhan minum dan biasanya cukup untuk satu keluarga selama sekitar satu pekan.

“Air galon itu untuk diminum satu keluarga selama satu minggu. Kalau untuk memasak, kami menggunakan air dari sumur,” ujar Hasye, Jumat (31/7/2026).

Selain untuk memasak, air sumur juga dimanfaatkan warga untuk mandi, mencuci, serta kebutuhan sanitasi. Namun, sejak musim kemarau mulai berlangsung pada Mei 2026, debit air di sejumlah sumur terus mengalami penurunan sehingga warga harus menghemat penggunaan air.

“Kami terpaksa harus hemat-hemat selama kemarau. Biasanya kondisi ini berlangsung sampai September,” katanya.

Persoalan air bersih semakin berat karena jaringan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hingga kini belum menjangkau Kampung Warloka. Desa Persiapan Warloka Pesisir saat ini dihuni sekitar 351 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 1.015 jiwa.

Sekretaris Desa Persiapan Warloka Pesisir, Ahmad, mengatakan hanya sekitar 15 rumah warga yang memiliki sumur. Meski demikian, kualitas air dari sumur tersebut cenderung payau dan memiliki rasa asin.

“Ada sekitar 15 rumah warga yang mempunyai sumur. Airnya agak asin, tetapi karena tidak ada pilihan lain, warga sudah terbiasa dengan rasa tersebut,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sebagian warga memilih membeli air yang dialirkan dari kawasan pegunungan melalui jaringan selang yang dikelola pihak swasta. Air tersebut dijual seharga Rp50.000 untuk satu tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter.

Menurut Ahmad, satu tandon air umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan satu keluarga selama sekitar satu minggu, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak.

“Satu tandon biasanya habis dalam waktu satu minggu. Sumber air itu mampu mengisi kurang lebih 20 tandon setiap hari,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi ironi bagi Warloka Pesisir yang berada di kawasan penyangga salah satu destinasi wisata kelas dunia. Di tengah upaya pemerintah mengembangkan potensi desa wisata, masyarakat setempat masih harus berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar, yakni memperoleh akses air bersih, terutama saat musim kemarau.

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *